Selasa, 27 Mei 2025

KAJIAN DIKSI & LOGIKA #2 HMPS BSA 2025

  Divisi intelektual HMPS BSA kembali mengadakan kegiatan rutin dua pekan sekali untuk kedua kalinya. Suasana hangat mewarnai kegiatan yang digelar pada Sabtu, 24 Mei 2025, di kawasan Gading Gajah, Plosokandang. Dengan mengangkat tema “Bahasa mu batas dunia mu”, acara ini berhasil menarik perhatian mahasiswa, khususnya dari kalangan Bahasa dan Sastra Arab (BSA), serta para pencinta kajian linguistik dan filsafat bahasa. Acara ini menghadirkan Muhammad Qadli Al Khofi, mahasiswa semester 6 sebagai pemantik utama. Sosok yang akrab disapa Offi ini memaparkan hal yang menarik tentang hubungan antara bahasa, logika berpikir, dan realitas dunia.

  Dalam pemaparannya, Sobat Ofi mengajak peserta menyelami pemikiran linguistik yang jarang dibahas dalam forum populer. Ia menyatakan bahwa setiap bentuk bahasa sebagai alat memahami dan membentuk dunia bermula dari bunyi.

   “Sebelum ada kata, sebelum ada kalimat, yang pertama kali hadir adalah bunyi. Bunyi adalah respons awal manusia terhadap dunia. Dari bunyi, tercipta makna. Dari makna, lahir dunia,” ujarnya.

  Menurut Sobat Offi, manusia tidak menyebut sesuatu sebelum mendengar dan merasakan bunyinya terlebih dahulu. Bunyi menjadi alat pertama manusia, sebelum akhirnya mewujudkan bahasa yang lebih kompleks. 

   Diskusi berlangsung hangat dengan banyak peserta aktif bertanya dan berdiskusi. Beberapa peserta menyampaikan bahwa acara semacam ini sangat diperlukan untuk memperluas wawasan mahasiswa lintas bahasa, khususnya dalam hal berpikir kritis terhadap penggunaan bahasa sehari-hari. 

   Dengan adanya kegiatan ini audiens dapat menyadari bahwa bahasa bukanlah sekadar alat, melainkan kekuatan pembentuk realitas. Semakin tajam pilihan diksi, semakin logis struktur berpikir, maka semakin luas pula pengetahuan yang bisa dijelajahi oleh seseorang. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Muhammad Qadli Al-Khofi, dunia tak lepas dari bahasa dan bahasa tak bisa dilepaskan dari bunyi.


Penulis : Sobat Literasi dan Jurnalistik²⁴



Jumat, 09 Mei 2025

PELATIHAN KHITOBAH HMPS BSA 2025


     Himpunan Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (HMPS BSA) kembali mengadakan kegiatan untuk mengasah skill dan kemampuan para mahasiswa. Setelah sukses mengadakan kegiatan Kajian Diksi dan Logika pada hari Kamis, 8 Mei 2025 keesokan harinya di susul dengan kegiatan pelatihan khitobah. Pelatihan yang diselenggarakan di Angkringan lawe 3 ini dihadiri oleh para mahasiswa BSA maupun mahasiswa di luar BSA. Acara ini diselenggarakan pada Jum'at, sore hari oleh saudara Ageng Jalbul Masholih sebagai pembicara untuk mengupas tuntas bagaimana cara berkhitobah dengan baik dan benar. 

     Sobat Abul menekankan ada 3 kriteria penilaian dalam perlombaan khitobah, yaitu gaya bahasa, intonasi dan juga lahjah (logat) dari ke 3 kriteria penilaian tersebut, lahjah yang memiliki penilaian tertinggi, yaitu sebanyak 40%. Lalu, mengapa lahjah memiliki penilaian tertinggi pada saat perlombaan khitobah? Ketika kita berkhitobah yang kita sampaikan adalah ceramah berbahasa arab, maka penting penggunaan lahjah, entah lahjah Mesir, Yaman, Yordania dan lain sebagainya. Selain ketiga kriteria tadi, adab juga sangat penting ketika berkhitobah. Hendaknya kita memberikan penghormatan terlebih dahulu kepada dewan juri sebelum memulai khitobah. Mempunyai kepercayaan diri yang tinggi saat berkhitobah juga sangat penting. Hal ini bisa dilatih dengan sering-sering bertanya pada diri sendiri di depan cermin, ujarnya. 

   Kegiatan pelatihan khitobah ini berhasil terlaksana dengan diskusi yang hidup dan pertanyaan dari audiens walaupun di tengah suasana hujan rintik yang sejuk. 

Beberapa pertanyaan dari audiens 
1. Apa perbedaan khitobah dengan qiraatu syi'ir?
=> Khitobah, menyampaikan pesan secara langsung biasanya dalam konteks agama, sosial, atau politik. Sedangkan Syiir, menyampaikan sesuatu dari perasaan karena syiir tercipta karena rasa dan rasa ada karena terbiasa.
2. Persiapan apa yang dilakukan saat sebelum tampil dan solusi agar audiens mendengarkan khitobah kita? 
=> pertama menjaga suara, kedua jangan terlalu fokus menghafal tapi fokus untuk memahami. ketiga kondisi tubuh. 
Solusinya penampilan, pelafalan dan intonasi harus ditekankan 
3. Rekomendasi untuk menambah skill lahjah kita? 
=> sering" melihat nerita di channel TV orang Arab. atau media sosial yang menggunakan bahasa Arab. 

Penulis : Sobat Literasi dan Jurnalistik²⁴
 

Kamis, 08 Mei 2025

KAJIAN DIKSI & LOGIKA #1 HMPS BSA 2025

 

  Himpunan Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (HMPS BSA) mengadakan Kajian Diksi & Logika dengan tema "Peran media sosial terhadap karya sastra". Meski langit menggantung kelabu dan rintik hujan sesekali menyapa bumi Plosokandang, semangat para penikmat sastra tak surut untuk hadir dalam gelaran perdana. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis, 08 Mei 2025, di Angkringan Lawe, Plosokandang, Tulungagung, yang di bawakan oleh pemantik Ahmad Muzaki Alhabibi (Mahasiswa BSA semester 8) dengan Moderator yang memandu jalannya acara Salik Abdir Rohman (Mahasiswa BSA semester 2). 

  Dalam paparannya, Sobat Muzaki menyampaikan bahwa media sosial saat ini bukan hanya menjadi ruang berbagi informasi, namun juga menjadi platform baru dalam perkembangan karya sastra. ia juga mengatakan "Sastra tidak mungkin lahir di dalam ruang kosong, karena sastra lahir di dimensi pengarang” artinya karya sastra tidak muncul begitu saja tanpa konteks. Ia tercipta dari pengalaman dan pemikiran. Hal tersebut mencerminkan bahwa "Tidak ada karya sastra yang benar-benar netral. Semuanya berakar pada pengalaman, perspektif, dan perasaan penulisnya,” jelasnya. Tidak hanya itu 

  Meski diliputi cuaca yang kurang bersahabat, suasana diskusi tetap hangat, bahkan beberapa peserta bertahan hingga akhir meskipun udara mulai dingin. Acara ini menjadi awal yang menjanjikan bagi lahirnya ruang-ruang literasi alternatif di Tulungagung, terutama yang berbasis komunitas dan refleksi intelektual.

  Di akhir acara, moderator menyampaikan bahwa Kajian Diksi dan Logika akan terus hadir setiap dua pekan dengan tema berbeda dan pemantik yang beragam.
Pertanyan dari beberapa audiens 
1. Mengapa puisi lebih mudah didengar dan dihafal dibandingkan prosa?
=> puisi, sebagai bentuk sastra yang padat dan ritmis, lebih menggambarkan dimensi emosional dan spiritual pengarang secara langsung, sehingga membekas lebih kuat dalam ingatan pembaca maupun pendengar. Sementara prosa cenderung menjelaskan dan menguraikan, puisi justru menyiratkan dan merangkum.
2. Perbedaan karya sastra dengan tulisan karya sastrawi?
=> Karya sastra itu tulisan yang secara umum telah memenuhi unsur-unsur estetika, imajinasi, dan kedalaman makna serta bersifat universal. Sedangkan tulisan sastrawi merupakan tulisan yang menggunakan gaya bahasa atau diksi yang indah dan cenderung puitis, tetapi belum tentu dapat disebut sebagai karya sastra. 

Penulis : Sobat Literasi dan Jurnalistik²⁴

Senin, 28 April 2025

WORKSHOP KEPENULISAN HMPS BSA 2025


   Himpunan Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (HMPS BSA) mengadakan Workshop Kepenulisan dengan tema "Pemahaman kepenulisan karya ilmiah secara sistematis: makalah dan jurnal Bahasa Arab" Yang di bawakan oleh pemateri Dr. Rizqa Ahmadi L.c.,M.A (Dosen BSA UIN SATU) dengan moderator yang memandu jalannya acara, Ahmad Isnaini Al-Ghifari (Prodi BSA semester 4). Acara ini diselenggarakan pada hari Kamis, 24 april 2025 di Pendopo ISNU Tulungagung. Bapak Nuryani, S.Ag., M.Pd.I selaku (Koorprodi BSA) menegaskan bahwa Workshop kepenulisan ini sangat penting untuk mahasiswa akhir dalam mengerjakan skripsi karya ilmiah, beliau juga memberikan sedikit motivasi yakni
أكتبو حتى طائرا في الدنيا
Tulislah seeokor langit terendah.
أنت تكتبون وأنت تفكرون
 Kamu menulis dan kamu berfikir
أكتب و أنت تطير في السماء الدنيا
 Menulislah disaat kamu terbang dilangit terendah.
   Artinya seorang penulis yang penuh dengan imajinasi tidak hanya mencatat apa yang dilihatnya, tetapi juga merenungkan dan mempertanyakan maknanya. Hal ini mengajak kita untuk menulis dengan hati dan pikiran yang terbuka.
   Pemateri dalam acara tersebut adalah Dr. Rizqa Ahmadi L.c.,M.A (Dosen BSA UIN SATU). Beliau merupakan lulusan Al-Azhar University of Egypt, Bachelor (Lc) of Islamic Theology(Bachelor in Hadith and its Sciences) serta memiliki beberapa penghargaan terkait kepenulisan, salah satunya Best paper in Al-Multaqo ad-Dawliy lil-Bahts ‘an Afkar at-Thullab waDirasat (MU’TAMAD) year 2022. Awardee Partnership in Education Scheme (PIES), at Australian National University, Canberra. Top ten of “The First Writing Competation Ulul Albab Journal held by UIN Malang. 
   Selanjutnya mengapa kami mengambil tema dari workshop tersebut? workshop ini dirancang untuk peningkatan kualitas penulisan karya ilmiah berbahasa Arab dengan pendekatan yang sistematis dan praktis. Harapannya, peserta dapat meningkatkan kemampuan menulis mereka dan berkontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan. serta memiliki bekal dengan pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri yang dibutuhkan untuk mengatasi kesulitan dalam menulis karya ilmiah berbahasa Arab. Pemateri juga menyampaikan "menulis merupakan bagian dari sesuatu yang kita tinggalkan"  artinya tulisan adalah jejak. Ketika kita tiada, kalimat-kalimat kita akan tetap hidup menginspirasi, menggerakkan, bahkan mengubah cara orang berpikir.”
   Komentar dari beberapa orang yang hadir dalam acara ini, salah satu peserta workshop mengatakan “Menurut saya sudah baik, menarik dan bagus acaranya, mungkin untuk konsep acaranya lebih dimatangkan lagi”. Dan yang terkahir dari Ketua Pelaksana acara ini M. Firdo Nurafif mengatakan untuk Mahasiswa BSA kedepannya, apapun workshop yang kalian ikuti tetaplah mengikutinya karena kita sebagai mahasiswa BSA sangat penting dalam mengikuti kepenulisan ini, jadi apapun itu yang berkaitan dengan penulisan bisa diikuti dan dipahami.  
   Beberapa pertanyaan dari acara tersebut:
1. Apa perbedaan antara metode dengan metodologi penelitian?
=> metode, menjelaskan tentang prosedur bagaimana memperoleh data, memverifikasi dan menganalisis data. metode yang jauh lebih umum disebut metode penelitian. Tujuan dengan adanya metodologi agar pembaca tahu dan artikel tersebut bisa dipertanggungjawabkan.
2. Jetika menulis artikel, kadang-kadang ide nya sudah habis dan sering mengganti judul. apakah ada solusi untuk mengatasi hal tersebut?
=> solusinya, jangan pernah hilangkan apa yg sudah dimulai, yakin suatu saat bisa diteruskan dan masih ada potensi yaitu dengan proses stimulus : explorasi, membaca literatur, perbanyak baca, perbanyak luang lingkup dari kajian tersebut.
3. Bagi kalangan mahasiswa secara umum, ketika sudah mengirim artikel jurnal ke jurnal ternama, maka semakin banyak mengirim artikel jurnal maka ia semakin pandai, apakah statement itu benar? jelaskan?
 => bisa dikatakan benar, tetapi dengan syarat, ia memiliki integritas tinggi dan kejujuran yang tulus dan mereka akan diuji apakah menjadi instrumen utama atau menjadi satu dari instrumen tersebut.

Penulis : Sobat Literasi dan Jurnalistik²⁴

Sabtu, 22 Maret 2025

Istisabung HMPS BSA 2025

   Himpunan Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (HMPS BSA) telah mengadakan acara Istisabung (Istighotsah, santunan, bagi-bagi takjil, buka bareng) dengan tema “Menyambung Tali Silaturahmi, Membangun Umat yang Peduli”. Mengapa kami mengambil tema tersebut? Karena tema ini relevan dengan kehidupan modern yang seringkali membuat kita terisolasi dan kurang peduli terhadap lingkungan sekitar. Tema ini menjadi pengingat akan pentingnya nilai-nilai kemanusiaan dan ajaran agama untuk membangun masyarakat yang lebih baik serta menerapkan dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.

   Acara ini diselenggarakan pada tanggal 21 Maret 2025, di Gedung UKM UIN SATU lantai 3 yang dihadiri oleh Bapak Nuryani, S.Ag., M.Pd.I selaku (Koorprodi BSA), Bapak Mochammad Faizun, S.S., M.Pd.I serta Bapak Muhammad Mahfud Ridwan, M.Pd.I selaku (Dosen BSA). Rangkaian acara yang penuh berkah ini diawali dengan Istighotsah, doa bersama memohon keberkahan dan keselamatan. Suasana khidmat menyelimuti acara tersebut, dengan diiringi lantunan ayat suci Al-Quran dan doa-doa yang dipanjatkan bersama. Setelah Istigotsah, acara dilanjutkan dengan santunan kepada anak yatim. Tindakan mulia ini sebagai bentuk kepedulian dan berbagi kepada sesama, khususnya kepada mereka yang membutuhkan. Senyum ceria terpancar dari wajah anak-anak yatim yang menerima santunan, menambah kehangatan suasana acara. Kemudian, acara dilanjutkan dengan pembagian takjil yang bertempat di depan Satu Klinik UIN SATU. Takjil berupa makanan dan minuman ringan yang dibagikan kepada orang sekitar, sebagai persiapan untuk berbuka puasa. Pembagian takjil dilakukan dengan tertib dan lancar, menambah semarak suasana menjelang berbuka puasa. Puncak acara adalah buka puasa bersama Koorprodi dan dosen BSA dengan menikmati hidangan berbuka puasa bersama-sama dalam suasana kekeluargaan dan penuh keakraban. Momen ini menjadi kesempatan untuk mempererat tali silaturrahmi antar sesama dosen dan Koorprodi BSA.

   Selanjutnya Bapak Nuryani, S.Ag., M.Pd.I selaku Koorprodi BSA berpesan bahwa, “melakukan apapun dibulan suci Ramadhan khususnya untuk acara ini merupakan hal yang sangat mulia dan semoga apa yang kita kerjakan mendapatkan keberkahan dari Allah”.

   Ketua umum HMPS BSA Moh. Nauval Zaki Elfikri juga mengatakan agar kedepannya, acara ini tetap berjalan untuk kepengurusan selanjutnya. 

   Harapan kami untuk HMPS kedepannya pada acara ini dapat memberikan manfaat positif bagi semuanya, baik dalam hal relaksasi, peningkatan solidaritas, maupun pencapaian tujuan bersama. 


Penulis : Sobat Literasi dan Jurnalistik²⁴



Sabtu, 15 Februari 2025

DOM & RAKER HMPS BSA 2025

 

   Himpunan Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (HMPS BSA) mengadakan acara DOM & RAKER 2025 dengan tema “Menyelami Organisasi Himpunan Menuju Samudra Perubahan”. Mengapa kami mengambil  tema tersebut? Karena tema tersebut dapat memberikan semangat positif bagi anggota HMPS untuk aktif berpartisipasi dalam organisasi, mencari perubahan yang bermakna, dan mengembangkan potensi diri sepenuhnya, serta menekankan pentingnya kerja sama dan solidaritas dalam mencapai tujuan bersama.

   Acara ini diselenggarakan selama dua hari, di Basecamp BSA, Loderesan Tulungagung. Hari pertama yaitu DOM (Diklat Organisasi Mahasiswa) yang diselenggarakan pada hari Rabu. 12 Februari 2025, yang telah disampaikan beberapa materi. Yaitu materi pertama tentang Kepemimpinan oleh Syarifah Annajiyah dengan moderator Ageng Jalbul L. Materi kedua tentang Administrasi oleh Rouna Dwi Margarista dengan moderator Fahmi Sulthonul Adhim dan Materi terakhir tentang Manajemen Organisasi oleh Basyaruddin Zainun Nafi’ dengan moderator Moh. Nauval Zaqi Elfikri.

   Dilanjutkan hari ke-dua pada Kamis, 13 Februari 2025 yakni RAKER (Rapar Kerja) yang diawali dengan pembacaan rancangan program kerja dari masing-masing divisi. Di HMPS BSA sendiri memiliki lima divisi. Yaitu divisi Intelektual, yang mendorong minat baca dan diskusi ilmiah. Divisi Dakwah Wal Ilmiah, mengelola kegiatan sosial keagamaan dan mengembangkan pemahaman agama yang mendorong peran mahasiswa dalam dakwah ilmiah.  Divisi Pengembangan bahasa & SDM, untuk meningkatkan kemampuan bahasa dan keterampilan komunikasi mahasiswa, serta mengembangkan potensi dan kemampuan sumber daya manusia (SDM) dalam organisasi. Divisi Literasi & Jurnalistik, meningkatkan minat baca dan menulis mahasiswa, mengembangkan kemampuan jurnalistik, serta menyebarkan informasi dan opini melalui media. Divisi Kominfo, menjalankan tugas komunikasi dan informasi organisasi, mengelola website dan media sosial, serta mempromosikan kegiatan dan program organisasi.

   Acara ini dihadiri oleh Mochammad Faizun, S.S., M.Pd.I selaku Dosen BSA dan Bapak Nuryani, S.Ag., M.Pd.I selaku (Koorprodi BSA) menegaskan bahwa “acara ini merupakan pertemuan penting untuk membahas pelaksanaan tugas organisasi serta mencapai visi misi HMPS BSA”. DOM berfungsi untuk membangun komunikasi dan sinergi antar organisasi, sementara RAKER berfungsi untuk mengevaluasi kinerja, merencanakan program, dan memperkuat organisasi. Selain itu dari Demisioner HMPS BSA, Ageng Jalbul L mengatakan bahwa “acara ini merupakan suatu program kerja yang sangat baik, karena sebuah Diklat Organisasi Mahasiswa dalam rapat kerja itu adalah sebuah awal dari kapal yang akan mengarungi lautan penuh kesuksesan di kepengurusan ini”. Dari ketua pelaksana sendiri, M. Fakhrul Hikam menyampaikan bahwa “walaupun ada beberapa kendala, tetap acara ini alhamdulillah berjalan dengan lancar dengan mengimprovisasi semua kendala-kendala tersebut”.


Penulis : Sobat Literasi dan Jurnalistik²⁴




Jumat, 29 November 2024

DIES NATALIS OKAZ FEST 2024



    Himpunan Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (HMPS BSA) Mengadakan acara Dies Natalis Okaz Fest 2024 dengan tema “Korelasi Sastra dengan Perkembangan Intelektual Manusia” Pada hari pertama, dan hari ke-dua dengan tema “Integrasi Filsafat dan Sastra dalam membangun cita-cita Humanisme”. Mengapa HMPS BSA mengangkat tema ini dalam merayakan hari jadi BSA? Karena menurut HMPS sendiri ilmu pengetahuan merupakan suatu hal yang berkembang sesuai dengan perkembangan etika suatu peradaban, dan salah satu indikasi berkembangnya etika suatu peradaban dapat dilihat dari karya sastra, dan kecenderungan masyarakat pada sastra, karena sastra bukan hanya bahasa yang digunakan sebagai penghibur tapi juga memberikan dampak emosional dan pengalaman seorang penikmat sastra.

    Acara Dies Natalis hari pertama diselenggarakan pada hari Senin, 25 November 2024 Di Aula Lt 6 gedung Arief Mustaqiem. Rangkaian acara ini diawali dengan Sholawat Al-Banjari perwakilan dari anggota HMPS, dilanjutkan dengan pemukulan gong yang dilakukan oleh Bapak Nuryani S.Pd. M.Pd I. Sebagai tanda bahwa Okaz Fest 2024 resmi dibuka, selain itu bapak nuryani juga menyampaikan beberapa petuah dan sambutan yang mengiringi dibukanya acara. Acara dilanjutkan dengan Grand Final lomba, diantaranya: Khitobah, Ghina’ Araby dan Qiroatus Syi’ir. Lomba Okaz Fest sendiri telah dilaksanakan sejak tanggal 20 september hingga tanggal 25 november, penyisihan dilakukan secara online dan grand final dilakukan secara offline pada hari pertama perayaan Okaz Fest 2024. Setelah melewati proses Grand final, pemaparan kritik dan saran oleh para juri kepada para finalis sehingga hari pertama Okaz Fest 2024 diakhiri dengan pembagian hadiah, beberapa para finalis sempat diwawancarai pada saat pasca acara. Toriq Syagil Birri finalis lomba Khitobah, menyampaikan pesan dan kesan selama acara berlangsung “Terima kasih saya sampaikan kepada para panitia yang luar biasa antusiasnya, kemudian fasilitas yang mewah, dimana saat saya tiba di Tulungagung langsung dijemput dan disediakan tempat penginapan yang sangat-sangat layak, dimana saya tidak pernah menemukan event yang lain, karena hanya ada di OKAZ FEST BSA UIN SATU Tulungagung saya merasa sangat dihormati dimuliakan. Dan yang paling akhir , satu kebanggaan bagi diri saya sendiri bisa berkompetisi di festival ini.” Izza Fahmiyatul Ilmi finalis Qiraatus Syi’ri juga menyampaikan kesan pesannya “Saya melihat acara ini sangat mewah mulai dari panitia yang cekatan dan saya terkesan dengan kampus ini yang begitu besar dan luas. Pesan dari saya mungkin Tetaplah bersujud sampai keinginana kita terwujud.”

    Dilanjutkan hari ke-dua pada hari Selasa, 26 November 2024 diawali dengan Pemotongan tumpeng yang dilakukan oleh Syaikh Ahmed Abdelhady Abdelgawad Fliefel dan Bapak Nuryani S.Pd. M.Pd I. Sebagai simbolis dalam merayakan hari jadi atau dies natalis program studi Bahasa dan Sastra Arab yang ke-sembilan dalam sambutannya bapak Nuryani sebagai koorprodi BSA menyampaikan berbagai ucapan selamat dan pengaharapan untuk berkembangnya prodi BSA dimasa yang akan mendatang. Acara dilanjutkan dengan Talkshow sebagai puncak dari rangkaian acara Okaz Fest 2024 dari awal hingga akhir dengan tema “Integrasi Filsafat dan Sastra dalam membangun cita-cita Humanisme” yang dibawakan oleh dua narasumber, Bapak Usman Arrumy sebagai narasumber pertama dan Bapak Ach. Dhofir S. Sos., M. Fill sebagai narasumber ke-dua, dengan moderator yang memandu jalannya acara, Bapak M. Hafidzulloh Sm, M.A (Dosen BSA UIN SATU Tulungagung). Talkshow pada kali ini berjalan dengan sangat meriah dengan mendatangkan dua narasumber dengan latar belakang yang berbeda bapak Ach. Dhofir memaparkan pendapat melalui pendekatan filsafat karena beliau ialah seorang penggiat filsafat, dan bapak Usman Arrumy memaparkan pendapat beliau dengan pendekatan sastra, para audien sangat antusias pada kelihaian kedua narasumber dalam memaparkan pendapat, Talkshow diakhiri dengan sesi tanya jawab antar narasumber dan audien, berikut pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para audien.

  1.  Apakah humanisme masih relevan pada era pastamodern ini?
  2. Mengapa kapitayan disebut sebagai sistem filsafat?
  3. Siapakah yang berhak menilai keindahan suatu karya sastra?

Jawaban:

  1. Humanisme itu topik yang selalu terjadi, namun tetap relevan di era disrupsi dan postmodern. Meskipun terjadi perkembangan teknologi dan informasi yang pesat, nilai-nilai humanisme tetap penting untuk dipertahankan. Dalam konteks pendidikan, pemikiran humanistik yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh seperti Ki Hajar Dewantara dan konsep “Merdeka Belajar” masih sangat relevan. Selain itu, humanisme juga masih relevan dalam bidang politik, ekonomi, dan keagamaan.
  2. Kapitayan memiliki dimensi filosofis yang kuat. Kapitayan tidak hanya berkaitan dengan praktik keagamaan, tetapi juga melibatkan pertanyaan-pertanyaan filosofis mendasar tentang realitas, pengetahuan, dan nilai-nilai. Kapitayan memberikan kerangka konseptual dan teoritis untuk memahami alam semesta, manusia, dan hubungan antara keduanya. Maka, kapitayan dapat dianggap sebagai sebuah sistem filsafat yang menyediakan kerangka konseptual dan teoritis untuk memahami alam semesta, manusia, dan hubungan antara keduanya, serta melibatkan refleksi kritis dan memuat filosofis yang mendalam dengan pemaknaan yang luas.
  3. Dapat dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk kritikus sastra, pembaca, dan masyarakat umum. Tetapi, selera pribadi juga berperan penting karena keindahan bersifat subjektif dan dapat bervariasi antar individu. Oleh karena itu, tidak ada satu pihak yang secara eksklusif berhak menilai keindahan karya sastra.

Penulis : Sobat Literasi dan Jurnalistik²³


Madrasah Sastra HMPS BSA 2026

  Madrasah Sastra 2026: Menyelami Makna dalam Sastra      Berbagai program kerja telah berhasil dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Progr...