Sabtu, 02 Mei 2026

WORKSHOP JURNALISTIK BSA 2026

 


Himpunan Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab UIN Sayyid Ali Rahmatulloh Tulungagung periode 2026 telah sukses menyelenggarakan salah satu program kerja yang ada pada HMPS BSA Divisi Literasi & Jurnalistik yakni Workshop Jurnalistik dengan tema : “RETORIKA DAN KRISIS OBJEKTIVITAS DALAM JURNALISME DIGITAL : MEMBANGUN OPINI DAN ARGUMENTASI YANG KRITIS DI TENGAH ARUS INFORMASI” yang dibawakan oleh pemateri Marshall Ilmie El Azyzie yang merupakan mahasiswa aktif BSA semester 6 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan moderator yang memandu jalannya acara yakni Kiky Ainurrohmah (Mahasiswa aktif BSA semester 4 UIN SATU) yang dilaksanakan pada hari kamis, 30 April 2026 bertempat di ruang multimedia lantai 3 gedung Saifuddin Zuhri.

HMPS BSA mengambil tema ini dengan tujuan untuk memahami peran retorika yang menunjukkan bahwa retorika merupakan seni berbicara dan menulis, guna menyakinkan suatu ucapan atau argumen dengan mengembangkan kemampuan berfikir secara kritis yang mampu menyaring, menganalisis, serta merumuskan argumen yang valid, agar para audiens tidak mudah terpengaruh oleh judul yang provokatif di era banjir informasi dalam dunia digital. Bapak Dr. Nuryani, S.AG., M.Pd.I selaku koorprodi BSA, beliau berpesan kepada mahasiswa agar selalu

 ان تكون الكتابة جيدة, ان تكون الكتابة صحيحة, و ان لا تكون تؤذي أخرين

Artinya: jadikanlah tulisanmu itu menjadi baik dan benar, dan jangan jadikan tulisanmu itu dapat melukai hati seseorang. Pesan ini mengajak kita untuk selalu berfikir “apakah tulisan yang kita tulis sudah baik dan benar?, atau apakah tulisan yang telah kita tulis telah melukai hati seseorang baik sengaja ataupun tidak”. Maka dari itu, jangan apa yang sampai tidak kita sukai tercurahkan melalui sebuah tulisan, karena dengan tulisan yang baik dan benar kita dapat menjadi seorang penulis yang hebat. Dengan ini kita dapat menyadari bahwa tulisan sangatlah berpengaruh untuk jati diri seseorang.

Pemateri dalam acara tersebut adalah Marshall Ilmie El Azyzie yang merupakan seorang penulis buku improvement self yang berjudul “SETITIK AIR” di lautan makna, menjadi arus kecil yang menggerakkan samudera kebaikan. Beliau juga mahasiswa berprestasi yang sering menyabet juara seperti debat bahasa arab tigkat nasional dan asean. Serta pengalaman organisasi beliau yang sungguh luar biasa hebatnya. Disini beliau menjelaskan bahwa problematika sekarang adalah kebergantungan seseorang terhadap gawai/gadget dan sulitnya mengambil informasi yang valid di tengah derasnya informasi era digital serta memakan mentah-mentah informasi yang belum jelas kebenarannya.

Materi pertama yang akan dibawakan oleh beliau membahas mengenai Silogisme, yang dimana silogisme ini adalah bentuk penalaran deduktif logis yang menarik kesimpulan (konklusi) dari dua pernyataan yaitu (permis mayor & permis minor) yang saling berhubungan yang bertujuan untuk memastikan agar argumen sistematis dan valid. Selanjutnya ada framing, “apa itu framing?”. Framing adalah teknik penyajian informasi dengan memilih sudut pandang, kata-kata atau konteks tertentu untuk memengaruhi persepsi dan pemahaman khalayak terhadap suatu isu. Kenapa framing sangat penting? karena framing bukan hanya sekedar menyampaikan sebuah fakta, melainkan juga menyederhanakan informasi menjadi kompleks dan mengarahkan interprestasi agar bermakna, serta dapat membangun reaksi emosional dan rasa empati.

Materi yang ketiga membahas mengenai retorika yang dicetuskan oleh Aristoteles. Retorika Aristoteles adalah seni persuasi yang didefinisikan sebagai kemampuan menemukan alat-alat menyakinkan yang tersedia dalam situasi apapun. Berikut 3 pilar utama Aristoteles dalam membangun sebuah argumen yang persuasif:

1.      ETHOS (Kredibilitas) adalah karakter personal dan latar belakang dari pembicara yang membuat audiens percaya.

2.      PATHOS (Emosi) adalah kemampuan pembicara dalam memainkan emosi, perasaan, dan kerangka berfikir audiens.

3.      LOGOS (Logika & Data) adalah sebuah pembuktian dari isi pidato itu sendiri dengan memberikan bukti dan argumen yang logis.

Dengan demikian, Krisis Objektivitas muncul ketika ketiganya tidak digunakan untuk menjelaskan realitas, melainkan untuk mengarahkan persepsi terhadap realitas.

Acara berlangsung dengan khidmat dan lancar dan diakhiri sesi foto bersama seluruh peserta, panitia, dan narasumber. Muhammad Firdho Nurarif selaku ketua umum berpesan untuk setiap pengurus organisasi agar tidak adanya miscommunication personal maupun chemistry.


WORKSHOP JURNALISTIK BSA 2026

  Himpunan Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab UIN Sayyid Ali Rahmatulloh Tulungagung periode 2026 telah sukses menyelenggaraka...