Rabu, 29 Oktober 2025

OKAZ FEST HMPS BSA 2025

 Bahasa, Ilmu, dan Peradaban: Peran Filologi dalam Revitalisasi Manuskrip Kuno"

    Tulungagung, 27 - 28 Oktober 2025. Gelombang semangat keilmuan Arab menyapu HMPS Bahasa dan Sastra Arab (BSA). Divisi Intelektual sukses menggelar Okaz Fest 2025. Acara bergengsi ini berlangsung megah selama dua hari, di dua lokasi berbeda. Gedung UKM pada hari pertama, dan Gedung Pascasarjana pada hari kedua. 

    Nama Okaz diambil dari nama Pasar “عكاظ”, sebuah pasar legendaris di Jazirah Arab yang tidak hanya menjadi pusat perdagangan, tetapi juga arena kompetisi sastra dan intelektual para penyair Arab klasik. Di pasar inilah karya-karya sastra terbaik dipamerkan dan dinilai.

    Pemilihan nama "Okaz" bertujuan sebagai pembeda dari nama acara kampus yang cenderung beragam. Nama ini menegaskan bahwa Okaz Fest bukan sekadar ajang lomba biasa, melainkan gelanggang pembuktian kemahiran berbahasa Arab dan ruang dialog peradaban. Seperti Pasar Ukaz tempo dulu, Okaz Fest 2025 menghidupkan kembali semangat kompetisi positif dan keunggulan bahasa dalam setiap ekspresi intelektual bukan sekadar festival, tetapi perayaan peradaban.

    Hari pertama, Gedung UKM berubah menjadi arena persaingan intelektual yang memukau. Dipandu oleh Muhammad Al Faroby, mahasiswa semester 3 Prodi BSA yang menjabat sebagai Ketua Pelaksana, Okaz Fest 2025 menjadi sosok inspiratif yang memimpin tim dengan visi brilian dan dedikasi tak kenal lelah. serta membuka tirai dengan empat kategori lomba bergengsi: Khitobah (Pidato Bahasa Arab), Qiroatus Syi'ri (Baca Puisi), Ghina' Aroby (Menyanyi Arab), dan Qiroatul Akbar (Baca Berita Arab).

    Para finalis yang telah melewati seleksi ketat tampil memukau dengan kemahiran berbahasa Arab yang luar biasa. Setiap penampilan bukan hanya menampilkan kecakapan linguistik, tetapi juga kedalaman apresiasi terhadap kekayaan sastra dan budaya Arab.

Berikut daftar pemenang yang membanggakan:

Juara Khitobah

1. Thoriq Syaqil Birri – El-Kaffah Center, Malang  

2. Afryandi Pamungkas – Universitas Darussalam Gontor  

3. Mecca Permata Amalia – Markaz Arabiyah, Pare, Kediri  

Juara Qira'atus Syi'ri

1. Fazila Rahmadina – Markaz Arabiyyah  

2. Ubaidillah – Universitas An-Nuqoyah  

3. Izza Fahmiyatul Ilmi – UIN Sunan Ampel, Surabaya  

Juara Ghina' Aroby 

1. Silvia Kurnia Sari – UIN Syekh Wasil, Kediri  

2. Syakira Naila Salsabila – SMA Mambaus Sholihin  

3. Atika Fitri Wulandari – UIN Sayyid Ali Rahmatullah, Tulungagung  

Juara Qiro'atul Akbar

1. Abdul Khaliq – PP An-Nuqoyah  

2. Nurusyafiqoh El-Farros – Markaz Arabiyyah  

3. Andy Rahmatillah – Universitas Annuqoyah  

    Riuh rendah tepuk tangan mengiringi pengumuman setiap juara. Kegembiraan para pemenang berpadu dengan semangat sportivitas yang tinggi dari seluruh peserta, menciptakan suasana persaudaraan akademis yang hangat.

    Hari kedua, acara bergeser ke Gedung Pascasarjana, sekaligus menandai penutupan Okaz Fest 2025 yang penuh makna. Pagi hari dimulai dengan penampilan mahasiswa BSA yang menghibur hadirin melalui pertunjukan drama yang memukau. Kaprodi Program Studi BSA, Dr. Nuryani Iskandar, S.Ag., M.Pd.I. secara simbolis memotong tumpeng sebagai tanda ungkapan syukur atas kesuksesan acara sekaligus harapan agar tradisi keilmuan terus tumbuh subur.

    Tema seminar bertajuk “Bahasa, Ilmu dan Peradaban: Peran Filologi dalam Revitalisasi Manuskrip Kuno”. Tema ini dipilih secara visioner karena filologi bukan sekadar ilmu bahasa kuno, melainkan jembatan sakral yang menghidupkan kembali manuskrip-manuskrip berdebu dari peradaban masa lalu. Melalui filologi, kita dapat melacak jejak peradaban Islam klasik, mengungkap hikmah tersembunyi, dan merelevansikannya dengan tantangan peradaban modern – dari etika digital hingga harmoni antar budaya. Ini adalah panggilan untuk generasi muda, jangan biarkan warisan leluhur tenggelam dalam kelam waktu, tapi revitalisasi lah agar menjadi lentera pencerahan di era kontemporer. 

    Puncak acara ini yakni, Seminar Dr. Arsanti Wulandari, S.S., M.Hum., Dosen Program Studi Bahasa, Sastra dan Budaya Jawa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, hadir sebagai narasumber utama. Dengan kedalaman keilmuan yang memukau, beliau membedah bagaimana filologi—ilmu yang mengkaji teks-teks kuno—menjadi kunci membuka tabir peradaban yang hampir terlupakan.

    Dalam paparannya yang mendalam, Dr. Arsanti Wulandari menjelaskan bagaimana filologi berperan sebagai jembatan peradaban yang menghilangkan jarak waktu, jarak bahasa, dan jarak aksara antara masa lalu dan masa depan. Beliau mengilustrasikan dengan contoh naskah renggang atau wedana yang penuh motif indah, di mana setiap hiasan bukan sekadar ornamen estetis, melainkan simbol sarat makna dari sebuah cerita yang menunjukkan karakter khas naskah tersebut. Filologi berfungsi sebagai penghilang jarak melalui alih bahasa dan alih aksara, mentransformasikan teks kuno menjadi teks yang siap dipahami generasi modern, sehingga penguasaan bahasa dan aksara dalam kajian filologi hukumnya wajib.

    Dr. Arsanti menekankan bahwa filologi adalah tanda peradaban—sebagai sarana informasi masa lalu yang berguna untuk mengembangkan masa depan. Sebagai contoh, naskah kuno tentang rempah-rempah atau tanaman herbal dapat dikolaborasikan dengan ilmu farmasi modern untuk melahirkan kebaruan obat-obatan yang berdampak pada kemajuan peradaban. Filologi juga mengungkapkan kekhasan teks, seperti manuskrip Islam Jawa yang menunjukkan adaptasi bahasa Arab dalam konteks budaya lokal. Menanggapi pertanyaan peserta, beliau menjelaskan bahwa suatu naskah dikategorikan sebagai manuskrip kuno berdasarkan media naskah, jenis aksara, serta usia minimal 40 tahun atau lebih. 

    Dengan demikian, filologi bukan sekadar pelestarian teks, tetapi instrumen vital yang menghubungkan kebijaksanaan masa lalu dengan inovasi masa depan dalam pengembangan peradaban berkelanjutan.

    Diskusi yang dipandu oleh moderator, Dr. Ahmad Muhdhor, Lc., M.Pd.I., Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Arab UIN SATU, berlangsung dinamis. Peserta seminar yang terdiri dari mahasiswa, dosen, dan pegiat kajian filologi dari berbagai institusi, antusias mengajukan pertanyaan dan berbagi wawasan. Ruang seminar dipenuhi energi intelektual yang menyegarkan, mencerminkan semangat generasi muda dalam melestarikan warisan peradaban.

    Acara ditutup dengan foto bersama seluruh panitia, peserta, narasumber, dan tamu undangan. Di balik senyum yang terpatri dalam bingkai foto, terpancar kebanggaan. Dua hari penuh makna telah mengukuhkan Okaz Fest sebagai lebih dari sekadar festival akademik—ia adalah gerakan intelektual yang mengingatkan kita bahwa bahasa adalah roh peradaban, dan melestarikannya adalah kewajiban setiap generasi.


Penulis : Sobat Literasi dan Jurnalistik ²⁴

Sabtu, 11 Oktober 2025

TANABBAH HMPS BSA 2025

 

    Ori Green Sendang, 9-10 September 2025 – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Bahasa dan Sastra Arab (BSA) sukses menyelenggarakan kegiatan Tanabbah atau Malam Keakraban (MAKRAB) 2025 di Ori Green Sendang pada 9-10 September 2025. Acara yang dipimpin oleh Ketua Pelaksana Yusrin Faizatul Husnia dari Divisi Dakwah dan Ilmiah ini mengangkat tema inspiratif "Bahasa Menyatukan Kita, Sastra Menghidupkan Kita".

    Pemilihan tema "Bahasa Menyatukan Kita, Sastra Menghidupkan Kita" bukan tanpa alasan. Bahasa menjadi alat utama untuk menyatukan pikiran, perasaan, dan tujuan, baik dalam komunikasi sehari-hari maupun dalam proses pembelajaran. Sementara itu, sastra adalah napas yang menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan, imajinasi, dan ekspresi jiwa. 

    Dengan tema ini, malam keakraban tidak hanya menjadi ajang hiburan dan perkenalan, tetapi juga menjadi momentum untuk menumbuhkan cinta terhadap bahasa Arab dan karya sastranya, mempererat ukhuwah antar generasi, serta menanamkan semangat belajar dan berkarya bersama.

    Kegiatan hari pertama dibuka dengan sambutan dari Koordinator Program Studi BSA, Dr. Nuryani Iskandar, S.Ag., M.Pd.I. yang menekankan pentingnya kegiatan seperti Tanabbah dalam membangun karakter mahasiswa. "Melalui kegiatan ini, saya berharap mahasiswa tidak hanya dekat secara akademis, tetapi juga membangun ikatan emosional dan spiritual yang kuat. Bahasa Arab bukan sekadar mata kuliah, tetapi jendela peradaban yang harus kita jaga bersama," ujar Bapak Nuryani.
Mochammad Faizun, S.S., M.Pd.I.
Moh. Nauval Zaki El-Fikri 
Basyaruddin Zainun Nafi'
Rangkaian acara dilanjutkan dengan tiga sesi pembekalan materi yang inspiratif:
1. Keprodian/Sastra oleh Mochammad Faizun, S.S., M.Pd.I., yang membahas pentingnya memahami sastra Arab sebagai bagian integral dari pembelajaran bahasa
2. Keorganisasian oleh Sobat Naufal Zaki El-Fikri , yang memberikan wawasan tentang manajemen organisasi dan kepemimpinan mahasiswa
3. Andir Ansos (Analisis Diri dan Sosial) oleh Sobat Basyarudin Zainun Nafi', yang mengupas dinamika sosial dalam kehidupan kampus
     Puncak acara hari pertama adalah sosialisasi Ithla (Ikatan Mahasiswa Program Studi) yang dihadiri langsung oleh Ketua DPW IV, Uwais Al-Qarni. Kehadiran beliau memberikan warna tersendiri dan menambah semangat para mahasiswa untuk aktif dalam organisasi. 

     Memasuki hari kedua, suasana semakin cair dengan rangkaian fun games yang dirancang khusus untuk mempererat keakraban. Berbagai permainan edukatif dan menghibur berhasil mencairkan suasana dan mendekatkan mahasiswa lintas angkatan.
Acara Tanabbah ini tidak hanya menambah keakraban antar sesama mahasiswa BSA, tetapi juga memperkuat ukhuwah islamiyah, membangun solidaritas, dan menciptakan lingkungan belajar yang supportif. Para peserta tampak antusias dan merasakan manfaat besar dari kegiatan ini, baik dari sisi akademis, organisasi, maupun pembentukan karakter.

    Kegiatan Tanabbah HMPS BSA 2025 ditutup dengan sesi foto bersama yang penuh kehangatan. Senyum dan kebersamaan terpancar dari wajah para mahasiswa, menandakan suksesnya acara dalam mencapai tujuan mempererat tali silaturahmi dan menumbuhkan semangat belajar bersama.

    Yusrin Faizatul Husnia selaku Ketua Pelaksana menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh panitia, pembicara, serta peserta yang telah berkontribusi dalam kesuksesan acara ini. "Semoga keakraban yang terjalin hari ini menjadi fondasi kuat bagi kita untuk terus berkembang dan berkarya di bidang bahasa dan sastra Arab," pungkasnya.

Penulis : Sobat Literasi dan Jurnalistik ²⁴

Jumat, 11 Juli 2025

Ngabdi Bersama (NGABERS) HMPS BSA 2025

   Seorang penulis dan filsuf Prancis pada Era Pencerahan bernama Voltaire pernah berkata, “saya tahu tidak ada orang-orang hebat kecuali mereka yang memiliki pengabdian besar pada kemanusiaan”.

   Divisi dakwah wa ilmiah HMPS Bahasa dan Sastra Arab sukses mencetak sejarah baru dengan mengadakan acara yang berkesan bertajuk ngabdi bersama 2025 dengan tema "meningkatkan kapasitas menggapai kualitas" yang bertempat di desa Gador kec. Durenan kab. Trenggalek, selama 4 hari pada tanggal 07-10 Juli 2025. 

 Kegiatan diawali dengan acara pembukaan resmi yang berlangsung khidmat di Balai Desa Gador. Acara ini dihadiri oleh seluruh panitia, perangkat desa, serta Kepala Desa Gador, Bapak Waras. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan harapannya agar kegiatan ini bisa memberi dampak positif bagi mahasiswa dan masyarakat.

   Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan program mengajar mengaji di berbagai TPQ yang tersebar di Desa Gador. Malam harinya, suasana desa semakin hangat dengan pelaksanaan Lailatus Sholawat dan pembacaan Maulid Diba’, yang diikuti antusias oleh pemuda dan warga desa.

   Hari kedua dimulai dengan kegiatan jalan sehat keliling desa sebagai bentuk interaksi awal dan pendekatan kepada masyarakat. Setelah itu, para peserta dan warga mengikuti sesi edukatif bertema Digital Marketing yang disampaikan oleh M. Fakhrul Hikam (sobat hikam) di Balai Desa. Materi ini diharapkan dapat menambah wawasan masyarakat, khususnya para pelaku UMKM.

   Sore harinya, kegiatan mengaji bersama santri TPQ kembali dilanjutkan dengan semangat yang sama. Selain menjadi ajang belajar-mengajar, momen ini juga mempererat hubungan antara mahasiswa dan para santri.

   Di hari ketiga, kegiatan berfokus pada aksi sosial. Mereka melakukan kerja bakti membersihkan musholla dan masjid sekitar TPQ sebagai bentuk kepedulian terhadap kebersihan fasilitas ibadah. Selanjutnya, dilakukan sosialisasi lanjutan mengenai program digital marketing, dengan menyambangi langsung pelaku usaha kecil seperti pengrajin krecek singkong, tiwul, dan tape. Langkah ini menjadi upaya konkret dalam memberdayakan potensi lokal agar lebih siap menghadapi era digital.

Sore harinya, kegiatan mengajar mengaji tetap konsisten dilaksanakan, menegaskan komitmen mahasiswa untuk berbagi ilmu agama secara berkelanjutan.

   Memasuki hari terakhir, kegiatan ditutup dengan khidmat melalui acara Khotmil Qur’an bersama di pagi hari. Setelah itu, para peserta berpamitan dengan warga yang telah mendampingi mereka selama empat hari. Penutupan resmi dilakukan kembali di Balai Desa dengan suasana haru dan penuh rasa syukur.

"Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar, walaupun ada sedikit kendala dalam kegiatan, tetapi teman-teman panitia lainnya bisa langsung membantu mengatasinya." Papar ketua pelaksana ngabdi bersama 2025. 

   Sementara itu, Kepala Desa Gador, Bapak Waras, menyampaikan pesan yang penuh makna saat diwawancarai siang itu.

"Saya menyambut dengan baik kedatangan kalian didesa kami, semoga kedatangan kalian bisa menjadi pelajaran bermasyarakat teman-teman mahasiswa semua, dan minta tolong untuk dapat membantu dan memfasilitasi kesulitan yang dialami warga desa" ujarnya.

  Program Ngabdi Bersama 2025 telah membuktikan bahwa pengabdian bukanlah sebatas formalitas akademik. Ia adalah jalan sunyi menuju kematangan pribadi, kedewasaan berpikir, dan kedalaman empati. Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi ruang refleksi diri; bagi masyarakat, ia menjadi bentuk nyata kehadiran perguruan tinggi di tengah kehidupan desa.

   Dengan bekal ilmu, semangat kolaboratif, dan jiwa sosial yang tinggi, Ngabdi Bersama 2025 bukan hanya menjadi kegiatan tahunan, tetapi warisan nilai yang patut diteladani. 

  Pengalaman ini tidak hanya meninggalkan jejak di Desa Gador, tetapi juga membekas di hati setiap peserta sebagai bentuk nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam hal pengabdian kepada masyarakat.


Penulis : Sobat Literasi dan Jurnalistik ²⁴

Kamis, 19 Juni 2025

BEDAH BUKU "NAMAKU ALAM" HMPS BSA 2025


   Himpunan Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (HMPS BSA) sukses menghadirkan ruang reflektif dan inspiratif melalui kegiatan Madrasah Sastra yang dilaksanakan di hari ke dua pada Sabtu, 14 Juni 2025 di Pendopo Pondok Pesantren Darunnajah, Sumbergempol. Kegiatan ini mengangkat karya sastra berjudul Namaku Alam sebuah novel yang menyingkap sisi sejarah melalui pengalaman hidup seorang pemuda yang dibayangi masa lalu kelam sebagai anak tapol.

   Acara ini menghadirkan dua pembedah Sobat Iwan Kurniawan (pembedah 1) dan Sobat Alvin Saifulloh (pembedah 2) dengan moderator Zayyin Qalbi Hasyim. Keduanya memberikan perspektif mendalam tentang isi dan makna pada novel tersebut, baik dari segi estetika bahasa maupun pesan - pesan filosofis.

   Dalam sesi bedah buku Namaku Alam, audiens diajak menyelami kisah seorang pemuda bernama Alam yang berjuang melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalu dan stigma sebagai anak tapol. Dikaruniai ingatan fotografis, Alam merekam kuat luka emosional sejak kecil, termasuk penolakan keluarga dan cap sebagai “anak pengkhianat negara.” Ibunya berasal dari keluarga menengah keatas, namun ditolak setelah menikah dengan Pak Hananto, seorang wartawan berpikiran kiri yang menjadi buronan politik. Alam pun tumbuh dalam lingkungan yang dingin dan penuh penolakan, bahkan dari keluarganya sendiri.

   Di tengah kehidupan pahit Alam, hadir Ibu Umayani, guru sejarah yang penuh kasih dan menjadi sosok ibu sekaligus pembimbing. Ia membantu Alam memahami pentingnya sejarah diri dan berdamai dengan masa lalu. Titik balik hidup Alam terjadi saat masuk Sekolah Putra Nusa, tempat ia merasakan kenyamanan belajar dan diterima sepenuhnya. Konflik diperkuat oleh kehadiran Segara Alam, saudara yang tempramental, mencerminkan luka sejarah dalam relasi keluarga. Namun, Yu Kenanga dan Yu Bulan menjadi figur penyayang yang memberi kehangatan dan rasa aman bagi Alam.

   Sekilas penyampaian dari pembedah dari novel Namaku Alam. Tujuan diadakannya kegiatan ini untuk mendorong dan lebih peka terhadap makna dan nilai - nilai kemanusiaan dalam karya sastra. Selain itu kegiatan ini juga menjadi wadah untuk melatih kemampuan berpikir kritis serta mengapresiasi karya sastra secara mendalam.

   Acara berlangsung interaktif, diakhiri dengan sesi tanya jawab dari audiens serta foto bersama dengan pemateri sebagai penutup yang hangat.

Penulis : Sobat Literasi dan Jurnalistik²⁴




Selasa, 27 Mei 2025

KAJIAN DIKSI & LOGIKA #2 HMPS BSA 2025

  Divisi intelektual HMPS BSA kembali mengadakan kegiatan rutin dua pekan sekali untuk kedua kalinya. Suasana hangat mewarnai kegiatan yang digelar pada Sabtu, 24 Mei 2025, di kawasan Gading Gajah, Plosokandang. Dengan mengangkat tema “Bahasa mu batas dunia mu”, acara ini berhasil menarik perhatian mahasiswa, khususnya dari kalangan Bahasa dan Sastra Arab (BSA), serta para pencinta kajian linguistik dan filsafat bahasa. Acara ini menghadirkan Muhammad Qadli Al Khofi, mahasiswa semester 6 sebagai pemantik utama. Sosok yang akrab disapa Offi ini memaparkan hal yang menarik tentang hubungan antara bahasa, logika berpikir, dan realitas dunia.

  Dalam pemaparannya, Sobat Ofi mengajak peserta menyelami pemikiran linguistik yang jarang dibahas dalam forum populer. Ia menyatakan bahwa setiap bentuk bahasa sebagai alat memahami dan membentuk dunia bermula dari bunyi.

   “Sebelum ada kata, sebelum ada kalimat, yang pertama kali hadir adalah bunyi. Bunyi adalah respons awal manusia terhadap dunia. Dari bunyi, tercipta makna. Dari makna, lahir dunia,” ujarnya.

  Menurut Sobat Offi, manusia tidak menyebut sesuatu sebelum mendengar dan merasakan bunyinya terlebih dahulu. Bunyi menjadi alat pertama manusia, sebelum akhirnya mewujudkan bahasa yang lebih kompleks. 

   Diskusi berlangsung hangat dengan banyak peserta aktif bertanya dan berdiskusi. Beberapa peserta menyampaikan bahwa acara semacam ini sangat diperlukan untuk memperluas wawasan mahasiswa lintas bahasa, khususnya dalam hal berpikir kritis terhadap penggunaan bahasa sehari-hari. 

   Dengan adanya kegiatan ini audiens dapat menyadari bahwa bahasa bukanlah sekadar alat, melainkan kekuatan pembentuk realitas. Semakin tajam pilihan diksi, semakin logis struktur berpikir, maka semakin luas pula pengetahuan yang bisa dijelajahi oleh seseorang. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Muhammad Qadli Al-Khofi, dunia tak lepas dari bahasa dan bahasa tak bisa dilepaskan dari bunyi.


Penulis : Sobat Literasi dan Jurnalistik²⁴



Jumat, 09 Mei 2025

PELATIHAN KHITOBAH HMPS BSA 2025


     Himpunan Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (HMPS BSA) kembali mengadakan kegiatan untuk mengasah skill dan kemampuan para mahasiswa. Setelah sukses mengadakan kegiatan Kajian Diksi dan Logika pada hari Kamis, 8 Mei 2025 keesokan harinya di susul dengan kegiatan pelatihan khitobah. Pelatihan yang diselenggarakan di Angkringan lawe 3 ini dihadiri oleh para mahasiswa BSA maupun mahasiswa di luar BSA. Acara ini diselenggarakan pada Jum'at, sore hari oleh saudara Ageng Jalbul Masholih sebagai pembicara untuk mengupas tuntas bagaimana cara berkhitobah dengan baik dan benar. 

     Sobat Abul menekankan ada 3 kriteria penilaian dalam perlombaan khitobah, yaitu gaya bahasa, intonasi dan juga lahjah (logat) dari ke 3 kriteria penilaian tersebut, lahjah yang memiliki penilaian tertinggi, yaitu sebanyak 40%. Lalu, mengapa lahjah memiliki penilaian tertinggi pada saat perlombaan khitobah? Ketika kita berkhitobah yang kita sampaikan adalah ceramah berbahasa arab, maka penting penggunaan lahjah, entah lahjah Mesir, Yaman, Yordania dan lain sebagainya. Selain ketiga kriteria tadi, adab juga sangat penting ketika berkhitobah. Hendaknya kita memberikan penghormatan terlebih dahulu kepada dewan juri sebelum memulai khitobah. Mempunyai kepercayaan diri yang tinggi saat berkhitobah juga sangat penting. Hal ini bisa dilatih dengan sering-sering bertanya pada diri sendiri di depan cermin, ujarnya. 

   Kegiatan pelatihan khitobah ini berhasil terlaksana dengan diskusi yang hidup dan pertanyaan dari audiens walaupun di tengah suasana hujan rintik yang sejuk. 

Beberapa pertanyaan dari audiens 
1. Apa perbedaan khitobah dengan qiraatu syi'ir?
=> Khitobah, menyampaikan pesan secara langsung biasanya dalam konteks agama, sosial, atau politik. Sedangkan Syiir, menyampaikan sesuatu dari perasaan karena syiir tercipta karena rasa dan rasa ada karena terbiasa.
2. Persiapan apa yang dilakukan saat sebelum tampil dan solusi agar audiens mendengarkan khitobah kita? 
=> pertama menjaga suara, kedua jangan terlalu fokus menghafal tapi fokus untuk memahami. ketiga kondisi tubuh. 
Solusinya penampilan, pelafalan dan intonasi harus ditekankan 
3. Rekomendasi untuk menambah skill lahjah kita? 
=> sering" melihat nerita di channel TV orang Arab. atau media sosial yang menggunakan bahasa Arab. 

Penulis : Sobat Literasi dan Jurnalistik²⁴
 

Kamis, 08 Mei 2025

KAJIAN DIKSI & LOGIKA #1 HMPS BSA 2025

 

  Himpunan Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (HMPS BSA) mengadakan Kajian Diksi & Logika dengan tema "Peran media sosial terhadap karya sastra". Meski langit menggantung kelabu dan rintik hujan sesekali menyapa bumi Plosokandang, semangat para penikmat sastra tak surut untuk hadir dalam gelaran perdana. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis, 08 Mei 2025, di Angkringan Lawe, Plosokandang, Tulungagung, yang di bawakan oleh pemantik Ahmad Muzaki Alhabibi (Mahasiswa BSA semester 8) dengan Moderator yang memandu jalannya acara Salik Abdir Rohman (Mahasiswa BSA semester 2). 

  Dalam paparannya, Sobat Muzaki menyampaikan bahwa media sosial saat ini bukan hanya menjadi ruang berbagi informasi, namun juga menjadi platform baru dalam perkembangan karya sastra. ia juga mengatakan "Sastra tidak mungkin lahir di dalam ruang kosong, karena sastra lahir di dimensi pengarang” artinya karya sastra tidak muncul begitu saja tanpa konteks. Ia tercipta dari pengalaman dan pemikiran. Hal tersebut mencerminkan bahwa "Tidak ada karya sastra yang benar-benar netral. Semuanya berakar pada pengalaman, perspektif, dan perasaan penulisnya,” jelasnya. Tidak hanya itu 

  Meski diliputi cuaca yang kurang bersahabat, suasana diskusi tetap hangat, bahkan beberapa peserta bertahan hingga akhir meskipun udara mulai dingin. Acara ini menjadi awal yang menjanjikan bagi lahirnya ruang-ruang literasi alternatif di Tulungagung, terutama yang berbasis komunitas dan refleksi intelektual.

  Di akhir acara, moderator menyampaikan bahwa Kajian Diksi dan Logika akan terus hadir setiap dua pekan dengan tema berbeda dan pemantik yang beragam.
Pertanyan dari beberapa audiens 
1. Mengapa puisi lebih mudah didengar dan dihafal dibandingkan prosa?
=> puisi, sebagai bentuk sastra yang padat dan ritmis, lebih menggambarkan dimensi emosional dan spiritual pengarang secara langsung, sehingga membekas lebih kuat dalam ingatan pembaca maupun pendengar. Sementara prosa cenderung menjelaskan dan menguraikan, puisi justru menyiratkan dan merangkum.
2. Perbedaan karya sastra dengan tulisan karya sastrawi?
=> Karya sastra itu tulisan yang secara umum telah memenuhi unsur-unsur estetika, imajinasi, dan kedalaman makna serta bersifat universal. Sedangkan tulisan sastrawi merupakan tulisan yang menggunakan gaya bahasa atau diksi yang indah dan cenderung puitis, tetapi belum tentu dapat disebut sebagai karya sastra. 

Penulis : Sobat Literasi dan Jurnalistik²⁴

OKAZ FEST HMPS BSA 2025

  Bahasa, Ilmu, dan Peradaban: Peran Filologi dalam Revitalisasi Manuskrip Kuno"     Tulungagung, 27 - 28 Oktober 2025. Gelombang seman...