Bahasa, Ilmu, dan Peradaban: Peran Filologi dalam Revitalisasi Manuskrip Kuno"
Tulungagung, 27 - 28 Oktober 2025. Gelombang semangat keilmuan Arab menyapu HMPS Bahasa dan Sastra Arab (BSA). Divisi Intelektual sukses menggelar Okaz Fest 2025. Acara bergengsi ini berlangsung megah selama dua hari, di dua lokasi berbeda. Gedung UKM pada hari pertama, dan Gedung Pascasarjana pada hari kedua.
Nama Okaz diambil dari nama Pasar “عكاظ”, sebuah pasar legendaris di Jazirah Arab yang tidak hanya menjadi pusat perdagangan, tetapi juga arena kompetisi sastra dan intelektual para penyair Arab klasik. Di pasar inilah karya-karya sastra terbaik dipamerkan dan dinilai.
Pemilihan nama "Okaz" bertujuan sebagai pembeda dari nama acara kampus yang cenderung beragam. Nama ini menegaskan bahwa Okaz Fest bukan sekadar ajang lomba biasa, melainkan gelanggang pembuktian kemahiran berbahasa Arab dan ruang dialog peradaban. Seperti Pasar Ukaz tempo dulu, Okaz Fest 2025 menghidupkan kembali semangat kompetisi positif dan keunggulan bahasa dalam setiap ekspresi intelektual bukan sekadar festival, tetapi perayaan peradaban.
Hari pertama, Gedung UKM berubah menjadi arena persaingan intelektual yang memukau. Dipandu oleh Muhammad Al Faroby, mahasiswa semester 3 Prodi BSA yang menjabat sebagai Ketua Pelaksana, Okaz Fest 2025 menjadi sosok inspiratif yang memimpin tim dengan visi brilian dan dedikasi tak kenal lelah. serta membuka tirai dengan empat kategori lomba bergengsi: Khitobah (Pidato Bahasa Arab), Qiroatus Syi'ri (Baca Puisi), Ghina' Aroby (Menyanyi Arab), dan Qiroatul Akbar (Baca Berita Arab).
Para finalis yang telah melewati seleksi ketat tampil memukau dengan kemahiran berbahasa Arab yang luar biasa. Setiap penampilan bukan hanya menampilkan kecakapan linguistik, tetapi juga kedalaman apresiasi terhadap kekayaan sastra dan budaya Arab.
Berikut daftar pemenang yang membanggakan:
Juara Khitobah
1. Thoriq Syaqil Birri – El-Kaffah Center, Malang
2. Afryandi Pamungkas – Universitas Darussalam Gontor
3. Mecca Permata Amalia – Markaz Arabiyah, Pare, Kediri
Juara Qira'atus Syi'ri
1. Fazila Rahmadina – Markaz Arabiyyah
2. Ubaidillah – Universitas An-Nuqoyah
3. Izza Fahmiyatul Ilmi – UIN Sunan Ampel, Surabaya
Juara Ghina' Aroby
1. Silvia Kurnia Sari – UIN Syekh Wasil, Kediri
2. Syakira Naila Salsabila – SMA Mambaus Sholihin
3. Atika Fitri Wulandari – UIN Sayyid Ali Rahmatullah, Tulungagung
Juara Qiro'atul Akbar
1. Abdul Khaliq – PP An-Nuqoyah
2. Nurusyafiqoh El-Farros – Markaz Arabiyyah
3. Andy Rahmatillah – Universitas Annuqoyah
Riuh rendah tepuk tangan mengiringi pengumuman setiap juara. Kegembiraan para pemenang berpadu dengan semangat sportivitas yang tinggi dari seluruh peserta, menciptakan suasana persaudaraan akademis yang hangat.
Hari kedua, acara bergeser ke Gedung Pascasarjana, sekaligus menandai penutupan Okaz Fest 2025 yang penuh makna. Pagi hari dimulai dengan penampilan mahasiswa BSA yang menghibur hadirin melalui pertunjukan drama yang memukau. Kaprodi Program Studi BSA, Dr. Nuryani Iskandar, S.Ag., M.Pd.I. secara simbolis memotong tumpeng sebagai tanda ungkapan syukur atas kesuksesan acara sekaligus harapan agar tradisi keilmuan terus tumbuh subur.
Tema seminar bertajuk “Bahasa, Ilmu dan Peradaban: Peran Filologi dalam Revitalisasi Manuskrip Kuno”. Tema ini dipilih secara visioner karena filologi bukan sekadar ilmu bahasa kuno, melainkan jembatan sakral yang menghidupkan kembali manuskrip-manuskrip berdebu dari peradaban masa lalu. Melalui filologi, kita dapat melacak jejak peradaban Islam klasik, mengungkap hikmah tersembunyi, dan merelevansikannya dengan tantangan peradaban modern – dari etika digital hingga harmoni antar budaya. Ini adalah panggilan untuk generasi muda, jangan biarkan warisan leluhur tenggelam dalam kelam waktu, tapi revitalisasi lah agar menjadi lentera pencerahan di era kontemporer.
Puncak acara ini yakni, Seminar Dr. Arsanti Wulandari, S.S., M.Hum., Dosen Program Studi Bahasa, Sastra dan Budaya Jawa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, hadir sebagai narasumber utama. Dengan kedalaman keilmuan yang memukau, beliau membedah bagaimana filologi—ilmu yang mengkaji teks-teks kuno—menjadi kunci membuka tabir peradaban yang hampir terlupakan.
Dalam paparannya yang mendalam, Dr. Arsanti Wulandari menjelaskan bagaimana filologi berperan sebagai jembatan peradaban yang menghilangkan jarak waktu, jarak bahasa, dan jarak aksara antara masa lalu dan masa depan. Beliau mengilustrasikan dengan contoh naskah renggang atau wedana yang penuh motif indah, di mana setiap hiasan bukan sekadar ornamen estetis, melainkan simbol sarat makna dari sebuah cerita yang menunjukkan karakter khas naskah tersebut. Filologi berfungsi sebagai penghilang jarak melalui alih bahasa dan alih aksara, mentransformasikan teks kuno menjadi teks yang siap dipahami generasi modern, sehingga penguasaan bahasa dan aksara dalam kajian filologi hukumnya wajib.
Dr. Arsanti menekankan bahwa filologi adalah tanda peradaban—sebagai sarana informasi masa lalu yang berguna untuk mengembangkan masa depan. Sebagai contoh, naskah kuno tentang rempah-rempah atau tanaman herbal dapat dikolaborasikan dengan ilmu farmasi modern untuk melahirkan kebaruan obat-obatan yang berdampak pada kemajuan peradaban. Filologi juga mengungkapkan kekhasan teks, seperti manuskrip Islam Jawa yang menunjukkan adaptasi bahasa Arab dalam konteks budaya lokal. Menanggapi pertanyaan peserta, beliau menjelaskan bahwa suatu naskah dikategorikan sebagai manuskrip kuno berdasarkan media naskah, jenis aksara, serta usia minimal 40 tahun atau lebih.
Dengan demikian, filologi bukan sekadar pelestarian teks, tetapi instrumen vital yang menghubungkan kebijaksanaan masa lalu dengan inovasi masa depan dalam pengembangan peradaban berkelanjutan.
Diskusi yang dipandu oleh moderator, Dr. Ahmad Muhdhor, Lc., M.Pd.I., Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Arab UIN SATU, berlangsung dinamis. Peserta seminar yang terdiri dari mahasiswa, dosen, dan pegiat kajian filologi dari berbagai institusi, antusias mengajukan pertanyaan dan berbagi wawasan. Ruang seminar dipenuhi energi intelektual yang menyegarkan, mencerminkan semangat generasi muda dalam melestarikan warisan peradaban.
Acara ditutup dengan foto bersama seluruh panitia, peserta, narasumber, dan tamu undangan. Di balik senyum yang terpatri dalam bingkai foto, terpancar kebanggaan. Dua hari penuh makna telah mengukuhkan Okaz Fest sebagai lebih dari sekadar festival akademik—ia adalah gerakan intelektual yang mengingatkan kita bahwa bahasa adalah roh peradaban, dan melestarikannya adalah kewajiban setiap generasi.
Penulis : Sobat Literasi dan Jurnalistik ²⁴






