Himpunan Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra
Arab UIN Sayyid Ali Rahmatulloh Tulungagung periode 2026 telah sukses
menyelenggarakan salah satu program kerja yang ada pada HMPS BSA Divisi
Literasi & Jurnalistik yakni Workshop Jurnalistik dengan tema : “RETORIKA
DAN KRISIS OBJEKTIVITAS DALAM JURNALISME DIGITAL : MEMBANGUN OPINI DAN
ARGUMENTASI YANG KRITIS DI TENGAH ARUS INFORMASI” yang dibawakan oleh
pemateri Marshall Ilmie El Azyzie yang merupakan mahasiswa aktif BSA semester 6
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan moderator yang
memandu jalannya acara yakni Kiky Ainurrohmah (Mahasiswa aktif BSA semester 4
UIN SATU) yang dilaksanakan pada hari kamis, 30 April 2026 bertempat di ruang multimedia
lantai 3 gedung Saifuddin Zuhri.
HMPS BSA mengambil tema ini dengan tujuan untuk
memahami peran retorika yang menunjukkan bahwa retorika merupakan seni
berbicara dan menulis, guna menyakinkan suatu ucapan atau argumen dengan
mengembangkan kemampuan berfikir secara kritis yang mampu menyaring,
menganalisis, serta merumuskan argumen yang valid, agar para audiens tidak
mudah terpengaruh oleh judul yang provokatif di era banjir informasi dalam
dunia digital. Bapak Dr. Nuryani, S.AG., M.Pd.I selaku koorprodi BSA, beliau
berpesan kepada mahasiswa agar selalu
ان تكون الكتابة جيدة, ان تكون
الكتابة صحيحة, و ان لا تكون تؤذي أخرين
Artinya: jadikanlah tulisanmu itu menjadi baik dan
benar, dan jangan jadikan tulisanmu itu dapat melukai hati seseorang. Pesan ini
mengajak kita untuk selalu berfikir “apakah tulisan yang kita tulis sudah baik
dan benar?, atau apakah tulisan yang telah kita tulis telah melukai hati
seseorang baik sengaja ataupun tidak”. Maka dari itu, jangan apa yang sampai
tidak kita sukai tercurahkan melalui sebuah tulisan, karena dengan tulisan yang
baik dan benar kita dapat menjadi seorang penulis yang hebat. Dengan ini kita
dapat menyadari bahwa tulisan sangatlah berpengaruh untuk jati diri seseorang.
Pemateri dalam acara tersebut adalah Marshall Ilmie El
Azyzie yang merupakan seorang penulis buku improvement self yang berjudul “SETITIK
AIR” di lautan makna, menjadi arus kecil yang menggerakkan samudera
kebaikan. Beliau juga mahasiswa berprestasi yang sering menyabet juara seperti
debat bahasa arab tigkat nasional dan asean. Serta pengalaman organisasi beliau
yang sungguh luar biasa hebatnya. Disini beliau menjelaskan bahwa problematika
sekarang adalah ketergantungan seseorang terhadap gawai/gadget dan sulitnya
mengambil informasi yang valid di tengah derasnya informasi era digital serta
memakan mentah-mentah informasi yang belum jelas kebenarannya.
Materi pertama yang akan dibawakan oleh beliau
membahas mengenai Silogisme, yang dimana silogisme ini adalah bentuk penalaran
deduktif logis yang menarik kesimpulan (konklusi) dari dua pernyataan yaitu
(permis mayor & permis minor) yang saling berhubungan yang bertujuan untuk
memastikan agar argumen sistematis dan valid. Selanjutnya ada framing, “apa itu
framing?”. Framing adalah teknik penyajian informasi dengan memilih sudut
pandang, kata-kata atau konteks tertentu untuk memengaruhi persepsi dan
pemahaman khalayak terhadap suatu isu. Kenapa framing sangat penting? karena
framing bukan hanya sekedar menyampaikan sebuah fakta, melainkan juga
menyederhanakan informasi menjadi kompleks dan mengarahkan interprestasi agar
bermakna, serta dapat membangun reaksi emosional dan rasa empati.
Materi yang ketiga membahas mengenai retorika yang
dicetuskan oleh Aristoteles. Retorika Aristoteles adalah seni persuasi yang
didefinisikan sebagai kemampuan menemukan alat-alat menyakinkan yang tersedia
dalam situasi apapun. Berikut 3 pilar utama Aristoteles dalam membangun sebuah
argumen yang persuasif:
1. ETHOS (Kredibilitas) adalah karakter personal dan latar belakang dari
pembicara yang membuat audiens percaya.
2. PATHOS (Emosi) adalah kemampuan pembicara dalam memainkan emosi, perasaan, dan
kerangka berfikir audiens.
3. LOGOS (Logika & Data) adalah sebuah pembuktian dari isi pidato itu sendiri
dengan memberikan bukti dan argumen yang logis.
Dengan demikian, Krisis Objektivitas muncul ketika ketiganya tidak
digunakan untuk menjelaskan realitas, melainkan untuk mengarahkan persepsi
terhadap realitas.
Acara berlangsung dengan khidmat dan lancar dan diakhiri sesi foto
bersama seluruh peserta, panitia, dan narasumber. Muhammad Firdho Nurarif
selaku ketua umum berpesan untuk setiap pengurus organisasi agar tidak adanya
miscommunication personal maupun chemistry.






