"Kehadiran AI dalam Dunia Penerjemahan: Ancaman Profesi atau Partner Kolaborasi?"
TULUNGAGUNG, 23-24 September 2026.
Pagi yang cerah menyapa senyuman para peserta, hari
yang telah dinantikan akhirnya datang juga, yakni Okaz Fest 2026. HMPS BSA
telah sukses menyelenggarakan Okaz Fest 2026 yang berlangsung megah selama 2
hari. Kegiatan ini merupakan program kerja dari salah satu divisi di hmps yakni
divisi Intelektual.
Sebelum itu, apa sih yang dimaksud dari Okaz Fest?
Okaz Fest 2026 adalah Dies Natalis dari prodi BSA yang
ke-11 serta okaz fest ini merupakan ajang lomba bergengsi tingkat nasional.
Asal-usul nama Okaz Fest
Okaz diambil dari kata عكظ yang berawal dari سوق عكظ (pasar
ukadz). Pasar ukadz adalah pasar tradisional terbuka sekaligus pusat kebudayaan
paling penting dan terkenal di Jazirah Arab pada masa pra-Islam. Pasar ini
tidak hanya menjadi tempat jual-beli barang, melainkan panggung utama bagi para
penyair terkemuka dari berbagai kabilah. Mereka berlomba membacakan syair
terbaik, yang jika menang maka syairnya akan ditulis menggunakan tinta emas dan
digantung di dinding ka’bah atau biasa disebut dengan Mu’allaqat.
Hal inilah yang menjadikan inspirasi prodi BSA untuk
menamai kegiatan ini dengan kata Okaz Fest, pemilihan okaz fest juga bukan
didasarkan pada festival biasa, namun ajang lomba nasional yang diharapkan juga
dapat melestarikan budaya serta sastra arab klasik melalui festival lomba
ini.
Memasuki hari pertama, suasana Aula Pascasarjana berubah menjadi antusias para panitia menyambut kedatangan para finalis dari berbagai daerah di Indonesia, ruangan yang awalnya tenang berubah menjadi menegangkan akan penampilan dari para finalis yang amat memukau. Persaingan yang sangat sengit ini menimbulkan semangat mereka untuk terus berjuang pada perlombaan ini. Berbeda dengan tahun kemarin, kali ini HMPS BSA mengambil 5 cabang lomba yang amat bergengsi, diantaranya:
- Khitobah
- Qiro’atus Syi’ri
- Taqdimul Qishoh
- Ghina’ Araby
- Musabaqoh Qiro’atul Kutub
Setiap penampilan para finalis bukan hanya menampilkan bakat dan kreativitas saja, namun juga ikut berkontribusi terhadap perkembangan dan pelestarian kekayaan sastra & budaya arab klasik. Acara berlangsung dengan lancar, hingga tibalah sesi penyerahan hadiah pemenang untuk para finalis juara.
Berikut daftar
pemenang setiap cabang lomba:
A. KHITOBAH
1. Moh. Sultan Abdurrahman (Universitas
Annuqayyah)
2. Ahmad Makien (PP. Annuqayah Latee)
3. Moh. Kamilul Ibad (IAI Al Yasini Pasuruan)
B. QIRO’ATUS SYI’RI
1. M. Hishni Musyarrof (Universitas Annuqayah)
2. Fitriyatus Sholeheh (PP. Annuqayah Lubangsa
Putri)
3. Jofin Putri Alayya (Universitas Islam
Indonesia)
C. TAQDIMUL QISHOH
1. Arimbi Hayuning Putri Hariyadi (Markaz
Arabiyyah)
2. Inesha Puspa Mellydia Nadira Utama (Ponpes Putri
Kyai Syarifuddin)
3. M. Ferdyan Fatahillah (Universitas
Annuqayah)
D. GHINA’ ARABY
1. Anisa Syahrul Abidah (Universitas Islam Malang)
2. Chelsi Felisia Putri (MAN 7 Jombang)
3. Rizky Hidayat (El-Banna IDB Pamekasan)
E. MUSABAQOH QIRO’ATUL KUTUB
1. M. Chazim Fakhruzaman (PP. Hasha Modangan
Blitar)
2. M. Fatih Faza Abdillah Arifin (Ma’had Sunan
Ampel Al-Aly Malang)
3. Ata Annida Ahmad (Madin Nurul Iman Blitar)
Dengan menghadirkan
para juri yang sangat kompeten dan berpengalam di bidangnya, yaitu:
A. Khitobah
1. Toriq Syagil Birri
2. Afryandi Pamungkas
B. Qiro’atus Syi’ri
1. Rohmat, S.Hum., M.Pd.I.
2. Jihan Isheera, S.Sos., CTMR
C. Taqdimul Qishoh
1. Intan Sari Dewi, M.Ag.
2. Nurin Elyana Shefrina
D. Ghina’ Araby
1. Asna Andriani, M.Hum.
2. Muhammad Nizar
E. Musabaqoh Qiro’atul Kutub
1. M. Reza Panca, S.H.
2. Ibrahim Dahlan, S.Si.
Riuh tepuk
tangan memenuhi ruangan Aula Pascasarjana Lt.5. Perjuangan setiap finalis
akhirnya membawakan rasa haru dan bangga. Latihan yang mereka siapkan selama
berminggu-minggu hingga berbulan-bulan membuahkan hasil, kini Nama dan asal
instansinya dikenal banyak orang melalui panggung okaz fest 2026.
Memasuki
hari kedua, hari yang sangat bersejarah yang merupakan puncak dari acara okaz
fest ini, yakni Seminar Nasional serta pemotongan tumpeng sebagai simbol peresmian
acara okaz fest 2026 yang dilakukan oleh Koorprodi BSA, yakni Dr. Nuryani, S.Ag.,
M.Pd.I.
Acara
dilanjutkan dengan sesi Seminar Nasional dengan tema “Kehadiran AI dalam Dunia
Penerjemahan: Ancaman Profesi atau Partner Kolaborasi?” yang mendatangkan
pemateri yang sangat berpengalaman di bidangnya, yakni Bpk. Musyfiqur Rahman,
beliau seorang penerjemah sekaligus peneliti kajian Sastra dan Budaya Arab dengan
moderator Bpk. Mufti Rasyid, M.Pd. selaku Dosen BSA UIN Satu Tulungagung.
Dalam
pemaparannya, yang menjadi persoalan utama saat ini ialah siapa yang mampu mengetahui
bahwa terjemahan ini benar ataupun salah, siapa yang akan memperbaikinya, dan
mempertanggungjawabkan Keputusan akhirnya?, disinilah peran penting bagi tokoh para
penerjemah. Karena sejatinya AI dapat menghasilkan terjemahan, tetapi tidak
dapat dipungkiri bahwa tidak dapat menghasilkan terjemahan yang dapat dipercaya.
Seorang Penerjemah harus mempuyai Kompetensi Penerjemahan yang mencakup Kompetensi
Bahasa, pengetahuan bidang, kemampuan intrepretasi serta kemampuan tekstual dalam menilai sebuah karya yang akan diterjemahkan. Begitu juga Prompt, sebagus
apapun promptnya, ia hanya spesifikasi kerja yang tidak bisa memberikan
kemampuan linguistik untuk menilai dan mengevaluasi hasil jika penerjemah tidak
kompeten sejak awal.
Seminar berlangsung
selama 140 menit, dan dilanjutkan sesi penyerahan sertifikat dan foto bersama
seluruh peserta, panitia, narasumber, dan tamu undangan. Acara berlangsung dengan
khidmat, M. Firzan Alfiansyah selaku ketua pelaksana dalam acara okaz fest ini mengucapkan
beribu terima kasih kepada seluruh panitia yang telah menyukseskan acara megah
okaz fest ini.
penulis: kawan literasi & jurnalistik 26
